Breaking News

Selasa, 07 Juni 2011

Hubungan Ilmu Akhlak dengan Disiplin Ilmu Lainnya

1.    Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tasawuf
Ilmu tasawuf pada umumnya dibagi menjadi tiga. Pertama, tasawuf falsafi, yakni tasawuf yang menggunakan pendekatan rasio atau akal pikiran, karena dalam tasawuf ini menggunakan bahan-bahan kajian atau pemikiran yang terdapat di kalangan para filosof, seperti filsafat tentang Tuhan, manusia dan sebagainya. Kedua, tasawuf akhlaki, yakni tasawuf yang menggunakan pendekatan akhlak yang pada tahapannya terdiri dari takhalli (mengosongkan diri dari akhlak yang buruk), tahalli (menghiasinya dengan akhlak yang terpuji), dan tajalli (terbukanya dinding penghalang, hijab yang membatasi manusia dengan Tuhan, sehingga Nur Illahi tampak jelas padanya). Dan ketiga, tasawuf amali, yakni tasawuf yang menggunakan pendekatan amaliyah atau wirid, yang selanjutnya mengambil bentuk tarikat.
Akan tetapi pada dasarnya ketiga macam tasawuf ini tujuannya adalah sama, yakni sama-sama usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan cara membersihkan diri dari perbuatan yang tercela dan menghiasi diri dengan perbuatan yang terpuji (al-akhlak al-mahmudah). Karena itu, pencapaian tujuan bertasawuf adalah dengan terlebih dahulu berakhlak mulia yang dilakukan oleh manusia dengan kesadaran diri tanpa ada unsur paksaan.

Bertasawuf pada hakikatnya adalah melakukan serangkaian ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Swt dan ibadah itu sendiri kaitannya sangat erat dengan akhlak. Dalam hal ini Harun Nasution mengatakan bahwa ketika mempelajari tasawuf ternyata di sana akan didapatkan al-Qur’an dan al-Sunnah yang mementingkan akhlak,[1] karenanya ibadah erat sekali kaitannya dengan akhlak, dan kaum sufilah terutama yang pelaksanaan ibadahnya membawa kepada pembinaan akhlak yang mulia terlebih dalam diri mereka sendiri, sehingga dikalangan mereka dikenal istilah al-takhalluq bi akhlaq Allah, yaitu berbudi pekerti dengan budi pekerti Allah, atau juga istilah al-ittisaf bi sifat Allah, yaitu mensifati diri mereka dengan sifat-sifat yang dimiliki oleh Allah Swt.[2]

2.    Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Tauhid
Ilmu tauhid dikenal pula dengan ilmu ushul al-din, ilmu ‘aqaid dan ilmu kalam yang pada intinya berkaitan dengan upaya memahami dan meyakini adanya Tuhan dengan segala sifat-sifat dan perbuatan-Nya, termasuk pula mengenai rukun iman.
Akidah menitik beratkan kepada pemahaman untuk selanjutnya diresapkan ke dalam hati tentang rukun iman, sehingga manusia meyakini kebenarannya, adapun Akhlak dimulai dengan pengenalan kemudian difahami, selanjutnya dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatannya di samping normative dan dogmatis, juga dalam beberapa hal tertentu dapat secara rasional dan praktis.
Mengenai akidah dalam Islam, dapat dikemukakan bahwa sebelum menghayati makhluk Allah yang Maha Ghaib, diperlukan terlebih dahulu memahami dan meresapkan sifat-sifat yang Maha Ghaib yaitu sifat-sifat Allah Swt selanjutnya makhluk ghaib yang hidup seperti malaikat dan jin. Demikian kepercayaan terhadap Iblis yang membangkang atas perintah Allah, dan syaithan yang merupakan jin yang jahat yang selalu menggoda manusia. Hal-hal yang ghaib lainnya adalah adanya surga, neraka, adanya para Rasul dan kitab-kitab yang diturunkan kepadanya.
Dalam Islam terdapat beberapa aliran Theologi, ada yang bersifat tradisional seperti aliran Asy’ariyah, dan ada yang bersifat Liberal seperi aliran Mu’tazilah. Corak pemahaman kedua aliran ini sebenarnya tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Kemudian timbul kaum Khawarij (lawan kaum Syi’ah) yang memandang diri mereka sebagai kaum yang berhijrah meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka untuk mengabdikan diri kepada Allah dan Rasul-Nya dan untuk memperoleh pahala dari Allah Swt sesuai dengan firman-Nya pada surat al-Nisa ayat 100 yang artinya: “Siapa yang berpindah dijalan Allah, niscaya akan diperolehnya di bumi ini (tempat ia pindah) rezeki yang banyak (dan ketentraman). Siapa yang keluar dari rumahnya untuk hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian ia meninggal (di tengah jalan), maka sesungguhnya pahalanya sudah dijamin Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Kaum Khawarij dan Syi’ah meskipun mereka bermusuhan, namun mereka sama-sama menentang kekuasaan Bani Umayyah. Kemudian apabila ada golongan Murji’ah, yang berkeinginan untuk bersikap netral, tidak mau turut dalam praktek kafir mengkafirkan sesama umat Islam, seperti dilakukan oleh kaum Khawarij dan Syi’ah. Kaum Murji’ah berpendapat bahwa orang Islam yang berbuat dosa besar, ia tetap mu’min, sebab masih tetap mengakui Tiada Tuhan selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad saw adalah utusan Allah.
Selanjutnya perlu diperhatikan sebagaimana orang muslim dapat menyembah Allah dengan sebenarnya kalau didalam hatinya belum ada iman yang benar, kepercayaan yang dijiwai dengan perasaan, pikiran dan kemauan. Mungkin saja seorang muslim mengenal Allah sesuai dengan hak disertai hujjah atau dalil yang dinamakan “orang yang telah ma’rifat”. Ada pula seorang muslim mengenal Allah sesuai dengan hak namun tanpa dalil, masih ikut-ikutan saja, yang dinamakan “taklid sahih”.
Kedua macam akhlak ini diterima dalam Ilmu Kalam, dengan ketentuan bagi taklid shahih ini harus berangsur-angsur mempelajari dalil-dalilnya baik ‘aqly maupun naqli.
Dalam soal iman dan akidah, kita perlu waspada dengan tumbuh suburnya aliran kepercayaan, yaitu komunitas yang percaya kepada Tuhan tetapi menyimpang dari kebenaran dan tidak tahu dalil-dalil. Kelompok semacam ini melakukan “taklid bathil” dan menyimpang dari ajaran Islam. tetapi, ada yang lebih berbahaya lagi, yaitu komunitas yang menyimpang dari yang hak, namun dia tahu beberapa dalil naqly dan ‘aqly. Kelompok semacam ini biasa dinamakan “jahil muraqab”.
Adapun mengenal Allah berarti kita mengetahui, memahami dan meyakini sifat-sifat Allah yang wajib, yaitu: Allah itu ada, Maha Dahulu, kekal, Beda dengan yang baru, berdiri sendiri, Maha Esa, Kuasa, Berkehendak, Ma-ha Mengetahui, Hidup, Maha Mendengar, Maha Melihat, dan Kalam. Dan mustahil bagi Allah bersifat yang berlawanan dengan sifat-sifat tersebut. Dan mungkin bagi Allah mengadakan atau tidak mengadakan sesuatu.
Sifat yang pertama dalam Ilmu Kalam dinamakan sifat nafsiyah, yaitu sifat yang dengan sifat ini dapat membuktikan Dzat Allah Swt. Adapun sifat yang kedua sampai dengan sifat yang keenam, disebut sifat salbiyah, yaitu sifat-sifat yang me-nafyi-kan sifat-sifat yang tidak mungkin dan tidak layak bagi Allah Swt kemudian dari sifat yang ketujuh sampai dengan sifat yang ketiga belas disebut sifat Ma’any, yaitu sifat-sifat yang memastikan yang disifati itu bersifat dengan sifat-sifat tersebut.
Selanjutnya penerapan akhlak dalam menanamkan keyakinan dalam Is-lam, tidak berjalan secara drastis, namun berangsur-angsur, dengan penuh kebijaksanaan dan bimbingan yang baik dari pendidik terhadap terdidik. Perhatikan dakwah Wali Songo, dan para ulama besar di negara kita pada masa yang lalu. Perhatikan surat Ali Imran ayat 159 dan surat al-Nahl 125.
Sedangkan kaitan ilmu ini dengan ilmu akhlak adalah ilmu tauhid ini akan mengarahkan amal perbuatan yang dilakukan manusia semata-mata karena dan untuk Allah Swt, ikhlas inilah akhlak yang mulia, sebagaimana firman Allah Swt :
وَمَا اُمـِرُوْا اِلاَّ لِيَـعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِـيْنَ لَـهُ الدِّيْـنَ حُنَـفَاءً وَّيُقِيْـمُوا الصَّـلَوةَ وَيُـؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِيْـنُ الْقَيِّـمَةِ
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.”[3]

Selain itu kaitan ilmu tauhid dengan ilmu akhlak ini bisa dilihat dari segi fungsinya, dimana ilmu tauhid menghendaki agar seseorang yang bertauhid tidak hanya cukup dengan menghafal rukun iman saja tetapi yang terpenting adalah meniru dan mengamalkannya sesuai dengan contoh-contoh yang ada di dalamnya.[4] Karena memang rukun iman itu erat sekali kaitannya pembinaan akhlak yang mulia. Selain itu memang sering dalam al-Qur’an[5] maupun al-Sunnah antara iman dan amal salih selalu dijelaskan secara bersamaan. Dalam hadis misalnya adalah :

لاَ يُؤْمِـنُ الْعَبْـدُ الاِيْـمَانَ كُلَّـهُ حَتَّى يَتْـرُكَ الْكَذِبَ مِـنَ الْمَـزَاحَـةِ وَيَتْـرُكَ الْمِـرَاءَ وَاِنْ كَانَ صَـادِقًـا

“Seseorang belum dianggap total (sempurna) keimanan, kecuali ia mau mening-galkan kedustaan dari senda gurau (percakapan)nya dan meninggalkan perteng-karan walaupun ia termasuk orang yang benar.” (H.R. Ahmad).

لَيْسَ مِنْ اَخْلاَقِ الْمُؤْمِنِ الْمُتَمَلَّقُ وَلاَ الْحَسَدُ اِلاَّ فىِ طَلَبِ الْعِلْمِ
           
“Bukanlah termasuk akhlak dari seorang mukmin, yaitu orang yang tidak per-nah merasa cukup dan bersikap iri, kecuali dalam hal mencari ilmu.” (H.R. Bai-haqi dari Mu’az).

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ فَلْيُحْسِنْ اِلىَ جَارِهِ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الاَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا اَوْ لَيَصْمُتْ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia memuliakan tamunya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah ia berkata yang baik atau sebaiknya diam saja.”  (H.R. Bukhari Muslim).

لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتىَّ يُحِبُّ لاَِخِيْهِ مَايُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah sempurna iman seseorang sehingga ia mau mencintai saudaranya, sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari Muslim).

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالَّذِى يَشْبَعُ وَجَارَهُ جَائِعُ اِلىَ جَنْبِهِ

“Bukanlah termasuk mukmin (yang baik) yaitu orang yang merasa kenyang (sendiri) sementara tetangganya yang dekat menderita kelaparan.” (H.R. Ahmad).[6]

3.    Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Jiwa
Zakiah Daradjat dalam bukunya Ilmu Jiwa Agama menjelaskan bahwa ilmu jiwa adalah ilmu yang membahas tentang gejala-gejala kejiwaan yang tampak dalam tingkah laku, sehingga dapat diketahui sifat-sifat psikologis yang dimiliki oleh seseorang. Misalnya jiwa yang kotor, banyak berbuat kesalahan dan jauh dari Tuhan akan melahirkan perbuatan yang jahat, sesat dan menyesatkan orang lain, dan sebaliknya orang yang jiwanya bersih dari dosa dan maksiat serta dekat dengan Tuhan akan melahirkan perbuatan dan sikap yang tenang dan berakhlak mulia.[7]
Sementara itu Musa Asy’arie menjelaskan bahwa ilmu jiwa mengarahkan pembahasannya pada aspek batin manusia dengan cara menginterpreta-sikan perilakunya yang tampak. Di dalam al-Qur’an hal ini diungkapkan de-ngan bentuk istilah al-insan yang antara lain kaitannya dengan berbagai kegiatan manusia, misalnya tentang belajar,[8] tentang musuhnya,[9] penggunaan waktunya,[10] keterkaitannya dengan moralitas dan akhlak,[11] dan masih ba-nyak lagi yang berkaitan dengan ini.[12]
Dengan demikian jelaslah bahwa antara ilmu akhlak dan ilmu jiwa mengenai potensi psikologis manusia ini erat sekali kaitannya. Dan secara teoritis ilmu akhlak bisa dibangun dengan kokoh melalui bantuan informasi yang diberikan oleh ilmu jiwa, atau potensi kejiwaan yang diberikan al-Qur’an.
Selain itu ilmu jiwa juga membahas secara mendalam tentang potensi rohaniah, yakni potensi untuk berbuat baik ataupun buruk. Juga ilmu jiwa membahas tentang perbedaan psikologis yang dialami seseorang pada setiap jenjang umurnya. Dan banyak hasil pembinaan akhlak yang telah dilakukan oleh para ahli dengan mempergunakan jasa yang diberikan oleh ilmu jiwa.

4.    Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Pendidikan
Ilmu pendidikan adalah ilmu yang banyak membahas berbagai aspek yang berkaitan dengan tercapainya tujuan pendidikan, di antaranya membahas tentang rumusan pendidikan, kurikulum, guru, metode, proses belajarmengajar dan berbagai hal yang berkaitan dengan tercapainya tujuan pendidikan itu sendiri dan dalam Islam tujuannya adalah membentuk kualitas manusia yang berakhlak.
Ahmad D. Marimba mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah identik dengan tujuan hidup seorang muslim, yaitu menjadi hamba Allah yang mengandung implikasi kepercayaan dan penyerahan diri kepada-Nya.[13] Pendapat Abdul Fatah Jalal senada dengan ini.[14]
Sementara itu al-Attas mengatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang baik.[15] Selanjutnya Mohd. Athiyah al-Abrasyi mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam.[16]

5.    Hubungan Ilmu Akhlak dengan Ilmu Filsafat
Filsafat adalah suatu upaya berfikir secara radikal, mendalam sampai keakar-akarnya, sistematis dan universal dalam rangka menemukan hakikat segala sesuatu. Dan salah satu yang erat kaitannya dengan ilmu akhlak ini adalah filsafat tentang jiwa yang dikemukakan oleh Ibn Sina (980-1037 M.),[17] tentang pembagian umat manusia ke dalam tiga golongan seperti yang dikemukan oleh al-Ghazali (1059-1111 M.),[18] tentang manusia sebagai makhluk berpikir seperti yang dikemukakan oleh Ibn Khaldun,[19] dan konsepsi basyar, insan dan al-nas sebagaimana dikemukakan oleh Musa Asy’arie.[20] Yang ini akan memberikan masukan yang amat berguna dalam pembinaan akhlak. Selain itu, filsafat juga membahas tentang Tuhan, alam dan makhluk lainnya. Yang dari pembahasan ini akan dapat diketahui dan dirumuskan tentang cara-cara berhubungan dengan Tuhan dan memperlakukan makhluk serta alam lainnya dengan mewujudkan akhlak yang luhur


[1] Harun Nasution. Islam Rasional, Gagasan dan Pemikiran. (Bandung: Mizan. 1995). Cetakan III. hal. 57.
[2] Ibid. hal. 59.
[3] Q.S. al-Bayyinah, [98]: 5).
[4] Untuk lebih jelas dan lengkap silahkan baca Abuddin Nata. Akhlak Tasawuf … hal. 21-27.
[5] Lihat misalnya Q.S. al-Nisa, [4]: 65; al-Nur, [24]: 51; al-Anfal, [8]: 2-4; al-Mu’minun, [23]: 1-5; dan al-Hujurat, [49]: 15.
[6] Hadis-hadis tersebut bisa dilihat pada kitab karangan Ahmad Hasyimi Bek. Mukhtar al-Ahadits al-Nabawiyah. (Mesir: Mathba’ah Hijazi. 1948). Cetakan VI. hal. 138, 144 dan 173.
[7] Zakiah Daradjat. Ilmu Jiwa Agama. (Jakarta: Bulan Bintang. 1978). Cetakan VI. hal. 32.
[8] Q.S. al-‘Alaq, [96]: 1-5; dan al-Rahman, [55]: 1-3.
[9] Q.S. Yusuf, [12]: 5; dan al-Isra’, [17]: 53.
[10] Q.S. al-‘Asr, [103]: 1-3.
[11] Q.S. al-‘Ankabut, [29]: 8.
[12] Musa Asy’arie. Manusia Pembentuk Kebudayaan dalam al-Qur’an. (Yogyakarta: Lembaga Studi Filsafat Islam. 1992). Cetakan I. hal. 30.
[13] Ahmad D. Marimba. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. (Bandung: PT. Al-Ma’arif. 1980). Cetakan IV. hal. 48-49.
[14] Abdul Fatah Jalal. Azas-azas Pendidikan Islam. diterjemahkan oleh Herry Noer Ali. (Bandung: Diponegoro. 1990). hal. 119.
[15] Syed Muhammad Nuqaib al-Attas. Konsep Pendidikan islam. diterjemahkan oleh Haidar Bagir. (Bandung: Mizan. 1984). hal. 1.
[16] Mohd. Athiyah al-Abrasyi. Al-Tarbiyah al-Islamiyah. diterjemahkan oleh H. Bustami A. Ghani dan Djohar Bahry LIS. Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam. (Jakarta: Bulan Bintang. 1974). Cetakan II. hal. 15.
[17] Untuk lebih lengkapnya lihat Harun Nasution. Falsafat dan Mistisisme dalam Islam. (Jakarta: Bulan Bintang. 1983). Cetakan III. hal. 38.
[18] Untuk lebih lengkapnya lihat Ibid. hal. 45-46.
[19] Untuk lebih lengkapnya lihat M. Sastrapratedja. Culture and Religion: A Study of Ibn Khaldun Philosophy of Culture as A Framework for Critical Assesment of Contemporary Islamic Thought in Indonesia. (Roma: Universitaris Gregorianae. 1979). hal. 14; lihat pula Fachry Ali. “Realitas Manusia: Pandangan Sosiologis Ibn Khaldun”. dalam M. Dawam Rahardjo (Ed.). Insan Kamil: Konsepsi Manusia menurut Islam. (Jakarta: Grafitri Pers. 1987). Cetakan II. hal. 151.
[20] Musa Asy’arie. Manusia Pembentuk … hal. 34.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Designed By